Social Media Sharing by CB Bloggerz


a
a
a
a

Recent Posts
recent

Berhenti Menunggumu

Oleh : Moh. Imron

Kepada Anisa.
Bagaimana kabarmu, perempuanku? Aku harap kamu baik-baik saja dan hari-harimu penuh kebahagiaan.
Anisa, malam ini bulan di hadapanku hampir purnama. Taburan bintang membuat malam menjadi lebih indah. Suasana ini sedikit mampu mengobati kerinduanku padamu. Tiba-tiba saja perlahan pikiranku menuju pada kenangan dulu. Kenangan waktu kita pertama merajut kisah asmara di  taman DAM Situbondo. Maka, kuputuskan untuk menulis surat ini padamu.
 “Arif, aku berjanji. Aku tidak akan pernah mengucapkan selamat tinggal untukmu!” katamu.
Aku masih ingat ucapan, tatapan mata dan senyumanmu malam itu. Genggaman tangan dan pelukan hangat, membuat aku yakin akan cintamu.
Sumber gambar : pakarcinta.com

Satu tahun berlalu, tapi kau malah pergi. Aku tidak tahu apa sebabnya.? Begitu mudahnya kau mengatakan putus, tanpa alasan yang  jelas dan masuk akal. Memang itu hakmu, paling tidak kau bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Lalu kita hadapi dan selesaikan bersama. Jika tidak ada solusi atau menemukan jalan, bahkan aku akan bahagia meskipun kita berpisah. Setidaknya kita telah sama-sama berusaha menjaga cinta ini dan berakhir dengan baik.
Aku yang selalu percaya, bahwa kau akan kembali. Di hatiku cuma ada nama kamu dan tidak kan pernah terganti. Tapi sampai saat ini, kau semakin jauh dan tidak lagi dalam pelukanku. Aku tidak pernah jemu menyayangimu, sekalipun tidak bisa menguraikan alasan-alasanku.
Butuh berapa tahun aku bisa melupakanmu? Ataukah aku terlalu menyayangimu? Mungkin salahku juga. Kusebar seluruh cintamu dalam darah dan daging juga menjadi separuh jiwaku. Di saat kau pergi, luka itu begitu membekas. Hingga begitu sulit melupankamu. Dan mengapa aku harus menunggumu?
Aku masih akan menanti, meski akan sangat lama lagi bagimu untuk membukakan pintu sepenuhnya. Menunggu hari demi hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan bahkan tahun berganti tahun. Aku telah lelah meyakinkanmu untuk mulai mengulang kisah ini. Tapi kau begitu ragu dan takut. Mungkin tak ada niat bahkan kau sudah menghapus namaku. Kini penantianku sia-sia  untuk kembali masuk dalam hatimu. Makasih atas luka yang kau tanam. Cukup aku yang menikmati dan semoga kau takkan pernah merasakannya.
Aku menyerah pada hatiku yang selalu menantikanmu, pada air mata yang tidak pernah berhenti mengalir, pada mimpi dan harapan yang terus terbayang tentang kenangan kisah kita. Meskipun kali ini menyerah, sebenarnya aku tidak pernah benar-benar menyerah. Hanya terkadang aku merasa telah sampai di ujung lelahku.
Aku masih ingat kata sahabat sebelas bulan yang lalu. Tapi aku tidak pernah mengikuti sarannya. Itu semua karena aku masih mengharapkanmu.

"Mau nunggu sampai kapan? Sudahlah Rif, kamu move on saja!" kata sahabatku.
"Entahlah, sudah aku coba Yon. Tapi hatiku masih percaya sama dia. Aku yakin dia akan kembali," Jawabku.
"Sampai setahun ini? Kamu jangan memaksa dan menyiksa perasaanmu Rif! Kamu jangan terus-terus mikiran dia! Mungkin saja dia sudah tidak sayang. seperti yang kamu ceritakan waktu putus denganya," kata Oyon.
"Aku juga bingung  harus gimana," jawabku.
"Cobalah cari yang lain! Jangan terus-terusan gini! Kau masih punya cita-cita yang harus diselesaikan," kata Oyon.
"Makasih ya, atas nasehatnya dan masih peduli padaku," kataku.
"Sama-sama, aku harap kedepannya kau tidak memikirkannya lagi! Aku yakin kamu pasti bisa, semua pasti ada jalan keluarnya," begitulah kata Oyon sahabatku.

Aku menyesal tidak mengikuti apa kata sahabatku dulu. Aku tidak tahu caranya berharap. Begitu bodohnya aku menunggu seseorang yang bahkan sekarang tidak akan pernah melirikku lagi. Tapi tidak apa, paling tidak aku bisa bercermin melihat diriku dalam kisah ini dan mengambil hikmahnya.

 Anisa sayangku, tak ada hubungan yang sempurna bahkan tak ada kisah yang berjalan baik. Semua harus melalui pertentangan, cobaan, bahkan harus menjatuhkan air mata. Supaya kita mengerti arti cinta yang sesungguhnya, mengerti keikhlasan dan kesabaran. Jika kita bersama, saling percaya, dengan kekuatan cinta yang kita pupuk dengan ketulusan dan keikhlasan, semuanya akan baik-baik saja. 
Sampai saat ini aku telah sadar. Kukira kamu butuh aku yang sederhana, yang setia apa adanya dan mendengar keluh kesah serta menjagamu. Ternyata kamu butuh seseorang yang lebih dari itu. Aku sudah tahu orang yang kau pilih. Dia memang kaya harta. Tapi kau tidak akan menemukan pelukan tulus yang penuh kesabaran yang baik sepertiku.
Aku berjanji. Aku tak akan pernah mengenang kenangan indah saat bersamamu. Bahkan tak akan kusebut namamu lagi dalam setiap doa-doaku. Akan kututup pintu hati untukmu. Berhenti berharap pada hal-hal yang tidak akan terjadi. Mungkin ini akan lebih baik. Biarlah aku hinggap di hati orang lain. Yang selalu bersama saat senang mau sedih. Jika aku tak menemukannya. Aku masih punya Tuhan, punya keluarga dan sahabat, yang selalu ada untukku. Yang pasti bukan kamu lagi yang ada untukku. Aku percaya, Tuhan pasti sedang menguji kesabaranku dan pasti ada jalan keluar di balik semua ini. Mungkin di mataku kamu adalah orang yang terbaik, tapi belum tentu kata Tuhan kamu yang terbaik untukku. Aku percaya dan yakin bahwa takdir Tuhan adalah yang paling indah.

Anisa, tiba-tiba tanganku bergetar, tak ada  niat dan keberanian untuk mengirim surat ini. Aku takut kau kembali mengingatku. Sementara kamu, tampak bahagia bersama lelakimu.  Biarlah aku tidak akan pernah mengusik hidupmu lagi. Dan  surat ini akan kubakar saja, bersama semua pemberian atau kenanganmu. Melenyapkan cinta ini dan tidak ada lagi tentangmu.
Redaksi

Redaksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.